KANKER SERVIKS DAN PENCEGAHANNYA





(Disampaikan oleh Dr. Hj. Novi Triana, SpPA pada pertemuan rutin komite dan orang tua murid Jumat/ 22  Februari 2013)

Berdasarkan data WHO DI dunia, 500.000 wanita menderita karsinoma servik setiap tahun 75-80%  berasal dari Negara berkembang dan INDONESIA memiliki penderita TERBANYAK.  KARSINOMA SERVIKS adalah penyebab utama kematian  pada wanita, dengan setiap tahunnya penderita tersebut meninggal sebanyak 300.000 orang.  Akan lebih mengerikan bila kita melihat dari segi durasi kematian wanita yang meninggal karena kanker serviks. Setiap dua menit ada satu wanita yang meninggal dunia karena kanker serviks di dunia. Sedangkan di Indonesia, setiap 1 jam ada satu wanita yang meninggal karena kanker ganas ini.

Kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak yang dijumpai di Indonesia, bahkan tiap tahun ± 15.000 kasus. Dari 40 wanita menderita kanker serviks, 20 wanita diantaranya meninggal. Secara global kasus ini meningkat seiring dengan peningkatan status ekonomi / sosial / pola hidup.
10 Jenis kanker terbanyak  di Indonesia
1.       Kanker leher rahim ( serviks )à 27%
2.       Kanker payudara
3.       Kanker kelenjar getah bening
4.       Kanker kulit
5.       Kanker nasofaring
6.       Kanker ovarium
7.       Kanker rektum.
8.       Kanker jaringan lunak
9.       Kanker kelenjar gondok
10.    Kanker usus besar.
Permasalahan kanker di Indonesia
 65-70 % penderita datang pada stadium yang sudah lanjut
Jepang : hanya 13 % yang datang pada stadium  lanjut
 Data di Negara Berkembang Lainnya
Stadium diagnosis kanker payudara (Chennai Cancer Institute di India)
                                Stadium I                                     1%
                                Stadium II                                 23%
                                Stadium III                              52%
                                Stadium IV                             24%
Sumber: WHO 2003

Beberapa penyebab keterlambatan penderita datang ke RS / dokter :
1.       Penderita tidak / kurang mengerti tentang kanker serviks
2.       Kurang memperhatikan kesehatan
3.       Rasa takut akan dioperasi
4.       Percaya obat - obatan tradisional / dukun / paranormal
5.       Faktor ekonomi
6.       Rasa malu

Apa Itu Kanker Serviks?
Sebelum membahas mengenai gejala kanker serviks, mari kita simak lebih dahulu apa itu kanker serviks. Kanker serviks atau yang juga dikenal dengan nama kanker leher rahim adalah kanker yang menyerang organ bagian depan rahim atau peralihan antara rahim dan vagina. Pada organ yang dalam istilah medis disebut serviks uterus itu, sel kanker menyerang dan mengganas.
Penyebab kanker serviks adalah virus yang dikenal sebagai Human Papiloma Virus (HPV). Ini merupakan penyebab utama kanker serviks. Sekitar 99 persen penderita kanker serviks disebabkan karena serangan HPV.
HPV memiliki ukuran yang kecil, dengan diameter sekitar 55 nm. Meski kecil,  HPV sangat berbahaya karena ada yang mampu bertahan meski coba dilumpuhkan oleh sistem kekebalan tubuh. Virus yang mampu bertahan inilah yang kemudian menetap dan menyebabkan terjadinya kanker serviks.
Infeksi HPV yang menyebabkan kanker serviks ini bisa terjadi karena kontak kelamin melalui hubungan seks. Di samping itu, timbulnya HPV  juga sangat rentan pada wanita yang merokok, suka berganti-ganti pasangan seks, dan menikah di usia terlampau muda.

Gejala-Gejala Kanker Serviks
Pada stadium awal kanker serviks, tidak ada gejala yang jelas apakah seorang wanita telah terserang kanker serviks. Namun dalam perkembangan berikutnya, gejala kanker serviks mulai dirasakan di antaranya seperti:
1.       Pendarahan sesudah melakukan hubungan intim.
2.       keluar keputihan atau cairan encer dari kelamin wanita.
3.       Pendarahan sesudah mati haid (menopause).
4.       Pada tahap lanjut dapat keluar cairan kekuning-kuningan, berbau atau   bercampur darah, nyeri panggul atau tidak dapat buang air kecil

APA PENYEBABNYA ?
Kanker serviks dapat terjadi jika infeksi HPV tidak sembuh dalam waktu yang lama. Apalagi dengan sistem imun atau kekebalan tubuh yang rendah, infeksi akan mengganas dan menyebabkan sel kanker. Virus ini dapat menyebar melalui sentuhan: misalnya, ada virus HPV di tangan Anda, lalu Anda menyentuh daerah genital, maka daerah serviks Anda dapat terinfeksi. Atau bisa juga dari kloset di WC umum yang sudah terkontaminasi virus (jadi sebelum duduk, Anda harus selalu membersihkan dengan alkohol). Selain itu, ada sejumlah faktor risiko atau penyebab kanker serviks:
Wanita berusia di atas 40 tahun lebih rentan terkena kanker serviks. Semakin tua maka semakin tinggi risiko.
Faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kanker serviks. Namun hal ini bukan berarti jika keluarga Anda bebas kanker serviks maka Anda tidak akan terkena! Anda harus tetap berhati-hati dan melakukan tindakan pencegahan.
Hubungan seksual di usia yang terlalu muda, berganti-ganti partner seks, atau berhubungan seks dengan pria yang sering berganti pasangan. Virus HPV dapat menular melalui hubungan seksual. Seandainya seorang pria berhubungan seks dengan seorang wanita yang menderita kanker servik, kemudian pria tersebut berhubungan sex dengan Anda, maka virus HPV dapat menular dan menginfeksi Anda.
Memiliki terlalu banyak anak (lebih dari 5 anak). Pada saat Anda melahirkan secara alami, janin akan melewati serviks dan menimbulkan trauma pada serviks, yang dapat memicu aktifnya sel kanker. Semakin sering janin melewati serviks, semakin sering trauma terjadi, semakin tinggi resiko kanker serviks.
Keputihan yang berlangsung terus-menerus dan tidak diobati. Ada dua macam keputihan, yaitu normal dan tidak normal. Pada keputihan yang normal, lendir berwarna bening, tidak bau dan tidak gatal. Jika salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi, artinya keputihan Anda tidak normal. Segera konsultasi dengan dokter!
Membasuh atau membersihkan genital dengan air yang tidak bersih, misalnya air sungai atau air di toilet umum yang tidak terawat. Air yang kotor banyak mengandung kuman dan bakteri.
Pemakaian pembalut wanita yang mengandung bahan dioksin (bahan pemutih yang dipakai untuk memutihkan pembalut hasil daur ulang dari barang bekas).
Daya tahan tubuh yang lemah, kurangnya konsumsi vitamin C, vitamin E dan asam folat. Kebiasaan merokok juga menambah risiko kanker serviks.

RESIKO RENDAH

  • VIRGIN
  • HISTEREKTOMI PENYAKIT BENIGNA
  • USIA > 65 TAHUN DAN LEBIH 10 KALI PAP NORMAL
  • SEKSUAL AKTIF USIA > 20 TAHUN : MULAI PAP 3 TAHUN SETELAH                             INTERCOURSE PERTAMA
  • USIA < 21 TAHUN : PAP 3 TAHUN SETELAH INTERCOURSE PERTAMA:
  • PASANGAN SEKSUAL kurang dari 2
  • KONSISTEN MEMAKAI BARIER KONTRA
  • TIDAK MEROKOK
  • PAP SEBELUMNYA NORMAL
  • TIDAK ADA RIWAYAT STD

PROTOKOL RISIKO RENDAH

  • PENAPISAN AWAL : TES PAP
  • SETIAP TAHUN NORMAL SAMPAI 3 TAHUN
  • SELANJUTNYA (BILA   PENAPISAN NORMAL) : SETIAP 2 ATAU 3 TAHUN


RESIKO TINGGI

  •   AKTIFITAS SEKSUAL USIA < 20 TAHUN
  • TIGA ATAU LEBIH PASANGAN
  • RIWAYAT HVP ATAU PENYAKIT AKIBAT HUBUNGAN KELAMIN (STD)
  • TES PAP SEBELUMNYA ABNORMAL
  • PECANDU ROKOK

 PROTOKOL RISIKO TINGGI

  • PENAPISAN AWAL : 2 KALI SETAHUN
  • SELANJUTNYA SETIAP TAHUN


USAHA PENCEGAHAN YANG DAPAT DILAKUKAN YAITU DENGAN DETEKSI DINI DENGAN PUP SMEAR

Kebanyakan kanker servik dapat dicegah. Ada 2 cara untuk mencegah penyakit ini. Cara pertama adalah menemukan dan mengobati pra-kanker sebelum menjadi kanker servik, dan yang kedua adalah mencegah terjadinya pra-kanker servik. Tes Pap smear adalah cara paling umum untuk mencari pra kanker sebelum mereka berubah menjadi kanker servik. Jika pra kanker ditemukan dan diobati, hal ini dapat menghentikan kanker servik sebelum benar-benar terjadi. (Test Pap Smear: dinamakan sesuai dengan penemunya, Dr. George Papanicolaou (1883-1962) dari Yunani. Test ini digunakan menyingkapkan apakah ada infeksi, radang, atau sel-sel abnormal dalam servik (leher rahim)) Test Pap smear dapat dilakukan di RS, klinik dokter kandungan ataupun laboratorium terdekat. Prosedurnya cepat (hanya memerlukan waktu beberapa menit) dan tidak menimbulkan rasa sakit. Test Pap smear dapat dilakukan bila Anda tidak dalam keadaan haid ataupun hamil. Untuk hasil terbaik, sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari sebelum pemeriksaan.

Berikut ini pedoman yang dapat diikuti untuk deteksi dini kanker servik:

  • Para wanita harus mulai melakukan tes Pap smear sekitar 3 tahun setelah mereka mulai melakukan hubungan seks, tetapi tidak lebih tua dari usia 21 tahun. 
  • Pengujian harus dilakukan setiap tahun jika tes Pap smear biasa digunakan, atau setiap 2 tahun sekali jika Pap smear berbasis cairan digunakan. 
  • Dimulai pada usia 30 tahun, para wanita yang mempunyai hasil tes NORMAL sebanyak 3x berturut-turut mungkin dapat menjalani tes Pap smear setiap 2 sampai 3 tahun sekali. 
  • Pilihan lainnya untuk wanita di atas 30an adalah menjalani tes Pap smear setiap 3 tahun sekali plus tes HPV DNA. 
  • Wanita yang memiliki faktor resiko tertentu (seperti infeksi HIV atau punya imunitas lemah) harus mendapatkan tes Pap smear setiap tahun.
  • Wanita usia 70 tahun atau lebih tua dengan hasil tes Pap NORMAL selama 3 tahun berturut-turut (dan tidak mempunyai hasil tes ABNORMAL dalam 10 tahun terakhir) dapat memilih untuk berhenti melakukan tes Pap smear ini. 
  • Tapi wanita yang telah menderita kanker servik  atau yang memiliki faktor risiko lain (seperti yang disebutkan di atas) harus terus melalukan tes ini selama mereka berada dalam kesehatan yang baik.
  • Wanita yang pernah menjalani total histerektomi juga dapat memilih untuk berhenti melakukan tes Pap kecuali telah menjalani pembedahan untuk mengobati kanker servik atau pra-kanker. Wanita yang pernah menjalani histerektomi sederhana (leher rahim tidak dihapus) harus tetap mengikuti pedoman di atas.


Alternatif lain Tes Pap Smear : Metode IVA

Untuk deteksi dini kanker servik, selain test Pap Smear, metoda lain yang dapat menjadi pilihan adalah IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).

  • IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel servik Anda setelah mengoleskan larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim. Asam asetat menegaskan dan menandai lesi pra-kanker dengan perubahan warna agak keputihan (acetowhite change). Hasilnya dapat diketahui saat itu juga atau dalam waktu 15 menit.
  • Metode IVA mengandung kelebihan dibanding test Pap smear, karena sangat sederhana (dapat dilakukan di Puskesmas), hasilnya cukup sensitif dan harganya amat terjangkau (mulai Rp. 5000).
  • Berbeda dengan test Pap smear, pemeriksaan dengan metode IVA juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat menstruasi, saat asuhan nifas atau paska keguguran. Bila hasilnya bagus, kunjungan ulang untuk tes IVA adalah setiap 5 tahun.







1 komentar: